Syamsuddin as-Sumatrani

SYAMSU’DDIN AS-SUMATRANI

(Ulama Dunia Akhirat – Cermin Bagi Aceh Kini)

By : Al Waaliyyah Aceh Melayu Raya

 


Adapun Syekh itu alim pada segala ilmu

Dan ialah yang mahsyur pengetahuannya pada ilmu tasawuf

Dan beberapa kitab yang dita’lifkannya

(Nuru’ddin Ar-Raniry)

Sepotong penggalan kalimat cantik yang ditulis dalam sebuah karya agung Bustan us-Salatin, dalam rangkaian kata yang megah dan menunjukkan kebesaran seorang Syamsu’ddin as-Sumatrani. Ditulis oleh seorang ulama besar, syaikhul akbar, tetapi terluka karenanya. Syekh Nuru’ddin Ar-Raniry.

Ia yang alim pada segala ilmu – kalimat ini merupakan representasi dari Syekh Syamsu’ddin sebagai ulama yang “complete”. Dia yang menentukan segala sesuatunya di balik layar kemegahan kerajaan Aceh Darussalam pada zaman Raja Iskandar Muda. Selaku ulama-negarawan, sumbangsih terbesarnya adalah mengukuhkan fondasi hukum syari’at sebagai ruh utama atas segala kebijakan, baik itu qanun, sistem politik, ekonomi dan sosial budaya di Aceh. Peninggalan pengaruhnya terbukti sangat dominan, bahkan hingga saat ini. Sebagai mufti, penasihat agung dan al-malikul Qadli yang aktif pada dua masa kerajaan, Syekh Syamsu’ddin, yang dalam hikayat aceh disebut Syaikhul Islam ini, adalah sosok yang dapat menembus lintas batas keilmuan. Bijaksana pada urusan politik, dalam dan luar negeri, handal sebagai seorang negosiator, piawai memberikan pertimbangan ekonomis dalam situasi perdagangan, teguh ber-jihad fi sabilillah dalam memerangi para agresor (penjajah), professor dalam ilmu keagamaan, dan terakhir – yang juga mengesankan – bahwa walaupun ia berada dalam lingkaran istana, tetapi tetap bersahaja dalam menjalani kehidupan tarekat dan sufistiknya. Sungguh tepat apa yang dimaksudkan oleh Syekh Nuru’ddin, bahwa Syekh Syamsu’ddin as-Sumatrani merupakan tokoh yang alim pada segala ilmu. Ia merupakan ulama yang “complete”, bukan hanya pada bidang keagamaan saja, tetapi juga keluwesan dan pemahamannya pada bidang-bidang yang lain. Ia memahami betul fiduniya hasanah wa fil akhirati hasanah itu!

Hingga saat ini, makamnya yang terletak di Desa Ketek, Negara Bagian Malaka, Malaysia, masih diziarahi orang. Tetapi hampir tidak ada masyarakat kita (baca: orang Aceh) yang notabene adalah tanah airnya sendiri sudi untuk mampir, meski hanya mengucapkan “salam” kepadanya (disayangkan masih kalah dengan animo ‘shopping’ tas dan sepatu yang melanda generasi penerus kita). Fenomena tersebut seharusnya menyadarkan kita untuk segera melakukan penghormatan secara paripurna” terhadapnya. Diperlukan peresmian dan pemugaran atas makam ini, sebagai salah satu simbol “duta besar Aceh” yang termahsyur. Hal ini juga sepatutnya dimasukkan sebagai salah satu usaha pelestarian situs cagar budaya bagi Aceh pada khususnya, serta peradaban Melayu itu sendiri, di dalam pengertian yang lebih luas.

Tulisan ini memaparkan dan mempertanyakan, mengapa ulama besar kelahiran Pasai ini masih menjadi misteri dalam lintasan sejarah kita? Apakah “lenyapnya” sejarah Syekh Syamsu’ddin memang sudah dari “sejak awalnya”, yang koheren dengan kondisi politik pada saat itu? atau memang ia sengaja diasingkan oleh sebuah konspirasi status quo yang tidak menginginkan pemikirannya, atau oleh musuh yang apriori akan terulangnya kembali kejayaan Islam dan Aceh? Atau memang hanya dikarenakan kurangnya saja minat akan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli kita saat ini? Tentunya diharapkan “kegelisahan” ini menjadi sebuah latihan intelektual bagi kita semua dalam menemukan kembali sosok Syekh Syamsu’ddin as-Sumatrani. Bukankah banyak permata berharga yang melimpah terkandung di dalam sosok dan pemikirannya? Hal ini merupakan kewajiban bagi kita untuk menemukan dan membongkar misteri tersebut dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi Aceh kini. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengerti dan fasih serta dapat menarik pelajaran dari sejarah peradabannya sendiri.

Hari ini, lebih dari 13 abad sesudahnya, apakah Syekh Syamsu’ddin ‘lolos’ dari keterpencilannya?

Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad menyatakan bahwa Syekh syamsu’ddin dalam kedudukannya yang terkemuka, bertanggung jawab dalam mengarang (setiap bentuk) surat-surat kerajaan, antara lain surat Iskandar Muda kepada Raja James I, Raja Inggeris. Kepiawaian Syekh Syamsu’ddin dapat dilihat melalui analisis Deny’s Lombard dalam bukunya, Kerajaan Aceh. Ketika Sir James Lancaster tiba di Aceh, ia terlibat diskusi –terutama dengan Syekh Syamsu’din. Ini dilakukannya agar mendapatkan dasar perniagaan yang langgeng. Naskah Melayu nomor [Douce MSS. Or.e.5] dalam Bodleilan Library menerangkan momen tersebut. Jika diperhatikan maksudnya, dapat dilihat bahwa isinya lebih kepada teks “legislatif” (sepihak/internal) daripada teks diplomatik. Ditambah lagi dengan tidak adanya tanda tangan, kalimat persetujuan/konvensi maupun klausula perdagangan antara dua pihak sebagaimana lazimnya sebuah traktat perjanjian. Dan ini yang menyebabkan Iskandar Muda tidak merasa dirinya terikat oleh yang dinamakan “perjanjian” tersebut ketika Best datang pada tahun 1613 dan meminta “perjanjian” tersebut dilaksanakan. Kedua, surat kepada Raja James I yang tertanggal 1024 H (1613) tidak ada nama Iskandar Muda di dalamnya, hanya disebut “Sri Sultan Perkasa Alam Juhan Berdaulat yang bergelar Makuta Alam”. Dan gelar Makuta Alam itu rupanya hanya terdapat dalam kata persembahan sebuah karya Syamsu’ddin as-Sumatrani (Kerajaan Aceh, 2006). Lombard meneruskan bahwa “ia memegang peranan yang sangat utama di istana Aceh, dan dengan ialah (juga) kebanyakan penjelajah Eropa berurusan antara tahun 1600 dan 1630”.

Syekh Syamsu’ddin juga sangat welas asih ketika berdialog dengan seorang tawanan yang bernama Frederick de Houtman. Padahal dengan kekuasaannya saat itu, dapat saja ia meng”Guantanamo”kan tawanan tersebut. Tetapi beruntung sang tawanan, ia berhadapan dengan seseorang yang tidak “kering” dan “kaku” dalam pergaulan, dan bahkan memperlakukan seorang tawanan secara manusiawi. Frederick de Houtman kemudian dibebaskan dan kembali ke negeri asalnya. Walaupun kemudian dia menambahkan “bunga-bunga” dalam kisahnya di Eropa, tetapi hikmahnya, kita kembali mendapatkan sekelumit informasi tentang sisi kemanusiaan seorang Syekh Syamsu’ddin yang dihadapkan dengan keadaan seseorang yang tidak memiliki daya upaya.

Syekh Syamsu’ddin, menurut pandangan kami, adalah juga seorang ulama, sufi besar dan sarjana hukum terkemuka, yang secara produktif telah menghasilkan 12 karya berbahasa melayu dan arab, serta pengaruhnya pada kodifikasi perundang-undangan dan tata pemerintahan Iskandar Muda, yang secara filosofis, yuridis, dan sosiologis berasal dari unsur Islam, syari’at dan adat istiadat. Van Nieuwenhuijze menyimpulkan, bahwa ia adalah seorang diantara pemikir bangsa Indonesia yang terbesar pada zamannya.

Semestinya, orang baik dan mereka yang mencari keridhaan Allah akan menikmati penghormatan dan posisi. Dan seorang yang “besar” pasti akan diingat oleh laki-laki dan perempuan yang “besar” juga. Namun, kenyataan yang terjadi, Syekh Syamsu’ddin justru mengalami keterpencilan dalam lintas sejarah Aceh dan peradaban Melayu Nusantara. Tidakkah kita melihat keserasian dan keselarasan dari sebuah “pemahaman tingkat tinggi” yang dilakukan oleh Syekh Syamsu’ddin, antara ulama, umara dan rakyat? Dan mengambil esensi dari sikap dan pemikirannya? Yaitu, kemenangan. Kemenangan pada dua laga pertempuran candradimuka. Dunia dan akhirat. Kemenangan kemakmuran kesejahteraan bagi Aceh dan kemenangan surga, yang dibangun atas landasan ketakwaan kepada Allah SWT.

Wahai Syekh Syamsu’ddin as-Sumatrani, masih sudikah engkau berbicara kepada kami?

Published in: on Juli 22, 2008 at 7:32 am  Comments (4)  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://mudawaly.wordpress.com/2008/07/22/syamsuddin-as-sumatrani/trackback/

RSS feed for comments on this post.

4 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saleum rakan…

    “feels the power of the word.. SALEUM!”

  2. Aku bermimpi, dalam mimpi aku dan Amal itu bertemu dengan Syeikh Syamsuddin as Sumatrani. Dia berkata : “Amal teruskan perjuangan Syeikh dengan menghidupkan lagi pemikiran Syeikh”.
    Kemudian sambil memberikan sebuah kunci kepadaku, kemudian dia berkata lagi : “Kunci ini merupakan pembuka pemikiran masyarakat”.
    Lalu setelah memberikan kunci, beliau pun berlalu. Aku melihat secarik kertas terjatuh dari pakaian beliau. Aku ambil, kemudian di kertas tersebut tertulis : “Mimpi adalah bunga tidur. Sekali lagi ini hanya mimpi loh :D”.

    “pass the dream into action, bro!”

  3. Mimpi dan harapan tentu saja berbeda
    Leumpo dan hayalan, pasti ga sama.

    *Take it eazy bro, everything is possible*

    bukankah harapan itu yaitu suatu KEMENANGAN yang dijanjikan dalam Qur’an? walaupun hanya 1 hari! Kuyakin, ini bukan mimpi🙂

  4. kenang kembali jasa cendikiawan aceh….dan ambil lah iktibar dari perjalanan dan perjuangan nya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: